uhhh.. lama sekali tak melihatmu..
hampir saja ku melupakanmu..
ntah kesibukan apa yang membuatku meninggalkanmu..
kangen...
kangen banget ma kamu..
maafkan aku..
sedikit menganak tirikan mu..
karena terlirik dengan yang lain..
kangen..
aku kangen..
my blogger..
kangen banget deh ma kamu..
^__^
Kamis, 13 Mei 2010
Selasa, 20 April 2010
Khusus untuk Wanita Cantik... ^^
♥Melukis kekuatan melalui proses kehidupan
♥Bersabar saat tertekan
♥Tersenyum di saat hati menangis
♥Diam saat terhina
♥Mempesona krn memaafkan
♥Mengasihi tanpa pamrih
♥Bertambah kuat di dlm doa & pengharapan
Di kirim khusus utk setiap wanita cantik ...
Kirim ke smua wanita yg menurutmu cantik ...
Mnurutku kamu cantik.. Selamat hari kartini...
-----------------------------------------------------
Mimi.. Makasih yah... ^_^
♥Bersabar saat tertekan
♥Tersenyum di saat hati menangis
♥Diam saat terhina
♥Mempesona krn memaafkan
♥Mengasihi tanpa pamrih
♥Bertambah kuat di dlm doa & pengharapan
Di kirim khusus utk setiap wanita cantik ...
Kirim ke smua wanita yg menurutmu cantik ...
Mnurutku kamu cantik.. Selamat hari kartini...
-----------------------------------------------------
Mimi.. Makasih yah... ^_^
Sabtu, 17 April 2010
Cukup Alloh Saja...
Bila rasa menari dipelupuk jiwa..
Kepada siapakah dia terlabuhkan ?
Jika keinginan untuk dihargai itu bersua didalam raga ?
Dimanakah kita memuarakannya ?
Hanya pada-Nya..
Tempat terindah untuk meletakkan asa, harapan dan impian..
Karena Allah adalah Zat Yang Maha Indah dan Maha Penolong..
Bila masih saja kelelahan bersua..
Maka cukup Allah yang mengetahui..
Sebab dia sebaik-baik tempat untuk mengadu..
Jika masih saja kelemahan merasuk raga..
Maka cukup Allah yang menjadi penyelamat..
Karena DIA sebaik-baik Zat yang Meberi Kekuatan..
~ Yusuf Al Bahi ~
//Publish by Ario Muhammad//
Kepada siapakah dia terlabuhkan ?
Jika keinginan untuk dihargai itu bersua didalam raga ?
Dimanakah kita memuarakannya ?
Hanya pada-Nya..
Tempat terindah untuk meletakkan asa, harapan dan impian..
Karena Allah adalah Zat Yang Maha Indah dan Maha Penolong..
Bila masih saja kelelahan bersua..
Maka cukup Allah yang mengetahui..
Sebab dia sebaik-baik tempat untuk mengadu..
Jika masih saja kelemahan merasuk raga..
Maka cukup Allah yang menjadi penyelamat..
Karena DIA sebaik-baik Zat yang Meberi Kekuatan..
~ Yusuf Al Bahi ~
//Publish by Ario Muhammad//
Rabu, 07 April 2010
Rangkaian SMS demi sebuah Jawaban...
Salah satu adikku meng-sms aku ...
Aduh, tampak penasaran dengan hasil yang ditunggu2nya...
Dia : Aslmkum, kakakku! Lg apa neh?
Aku : Wa'alaikumsalam... lagi dirumah...
Dia : Ehem-ehem!! Jd malu neh mau tanya'ny jg.
Aku : I know.. I think you want to ask me about the scholarship..
.
Dia : Yes, please tell me know! Don't make me have to wait for along time. Mb ati kan dah tau, kwjbnya membri tau org yg blum tau! Atwh kakaku yg yg bae.. please,,
Aku : Bukannya tidak ingin memberi tau.. tapi semua ada saatnya.. bersabarlah..
Dia : Anesan, doushte? Osokata dayo!! Dlm shlt maghrib brusan aku brdo'a. Mg hti kakaku ini dibukakan dan bisa memberi sdkt kcrahan dlm dri saya yg bnr2 glap ini
Aku : Insya Alloh, jika saatnya tiba Alloh akan mengabulkan semua do'amu... mengenai jawaban yang kau tunggu... mungkin belum sekarang.. Nantikan dan saksikanlah..
Dia : Allohu Akbar,, btp tguhnya ht kkqu ini. Hemh,, pstinya kapan mba? dlm hti kclku sbnrrnya trtawa. tp tetap tgnku nakal brgerak ingin sgra tau..
Aku : iiihh.. ngetawain saya yah.. :( tunggu saja adikku... segera dilayar kaca anda...
Dia : Aq hny mnrtawai diriku sndiri!! Aq bgtu klhatan sperti pgmis yg meronta minta belas kasihan dari orang kaya. Hemh,, sungguh memalukannya diriku ini...
//aku tak membalas
Dia : knp kau diam membisu wahai kakaqu? gag punya pulsa ya?
Aku : Bukan begitu adikku.. Hanya sja telah habis kata yang ingin kuucapkan.. Ku tak lagi sanggup merangkai kata yang ingin kupersembahkan padamu... Ku hanya bisa mengatakan.. bersabarlah.. Meskipun sabar tak semudah pengetikannya...
Dia : Dri dlu aku tlah dicetak mnjadi orang yang selalu harus menunggu dan bersabar. Skrg Qu hanya bisa menunjukan kelemahanqu sja. dan tak bisa kupungkiri itu. Qu bangga menjadi orang yang penyabar.
Aku : hohoho.. keren.. brother.. Keep smiling.. keep fighting..
Dia : Hemh, thanks for giving me motivation. and hopely next time I'll get good news from u my sister. dont be tired to teach me forever.. You're like power 4 me..
-----------------------------------------------------------
dasar.. adik2 gokil... ckckckckckck....
ini baru satu adik...
dan ada sekian adik lagi yang sms, email, chat, atau bahkan nodong langsung diruang kerjaku...
hahahahaha...
sabar dong adik-adikku... ^_^
Aduh, tampak penasaran dengan hasil yang ditunggu2nya...
Dia : Aslmkum, kakakku! Lg apa neh?
Aku : Wa'alaikumsalam... lagi dirumah...
Dia : Ehem-ehem!! Jd malu neh mau tanya'ny jg.
Aku : I know.. I think you want to ask me about the scholarship..
.
Dia : Yes, please tell me know! Don't make me have to wait for along time. Mb ati kan dah tau, kwjbnya membri tau org yg blum tau! Atwh kakaku yg yg bae.. please,,
Aku : Bukannya tidak ingin memberi tau.. tapi semua ada saatnya.. bersabarlah..
Dia : Anesan, doushte? Osokata dayo!! Dlm shlt maghrib brusan aku brdo'a. Mg hti kakaku ini dibukakan dan bisa memberi sdkt kcrahan dlm dri saya yg bnr2 glap ini
Aku : Insya Alloh, jika saatnya tiba Alloh akan mengabulkan semua do'amu... mengenai jawaban yang kau tunggu... mungkin belum sekarang.. Nantikan dan saksikanlah..
Dia : Allohu Akbar,, btp tguhnya ht kkqu ini. Hemh,, pstinya kapan mba? dlm hti kclku sbnrrnya trtawa. tp tetap tgnku nakal brgerak ingin sgra tau..
Aku : iiihh.. ngetawain saya yah.. :( tunggu saja adikku... segera dilayar kaca anda...
Dia : Aq hny mnrtawai diriku sndiri!! Aq bgtu klhatan sperti pgmis yg meronta minta belas kasihan dari orang kaya. Hemh,, sungguh memalukannya diriku ini...
//aku tak membalas
Dia : knp kau diam membisu wahai kakaqu? gag punya pulsa ya?
Aku : Bukan begitu adikku.. Hanya sja telah habis kata yang ingin kuucapkan.. Ku tak lagi sanggup merangkai kata yang ingin kupersembahkan padamu... Ku hanya bisa mengatakan.. bersabarlah.. Meskipun sabar tak semudah pengetikannya...
Dia : Dri dlu aku tlah dicetak mnjadi orang yang selalu harus menunggu dan bersabar. Skrg Qu hanya bisa menunjukan kelemahanqu sja. dan tak bisa kupungkiri itu. Qu bangga menjadi orang yang penyabar.
Aku : hohoho.. keren.. brother.. Keep smiling.. keep fighting..
Dia : Hemh, thanks for giving me motivation. and hopely next time I'll get good news from u my sister. dont be tired to teach me forever.. You're like power 4 me..
-----------------------------------------------------------
dasar.. adik2 gokil... ckckckckckck....
ini baru satu adik...
dan ada sekian adik lagi yang sms, email, chat, atau bahkan nodong langsung diruang kerjaku...
hahahahaha...
sabar dong adik-adikku... ^_^
Sabtu, 03 April 2010
Jumat, 02 April 2010
Fenomena Akhwat Melamar Ikhwan...
“Tiada kehinaan bagi yang memulai kebaikan. Laki-laki maupun perempuan punya hak yang sama dalam hal melamar.”
Selama ini dipopulerkan teori bahwa laki-lakilah yang berada dalam posisi aktif dalam hal melamar, sementara perempuan dalam posisi pasif atau menunggu lamaran. Tapi kenyataannya tidak bisa dipukul rata, karena banyak juga laki-laki yang pemalu berat. Hatinya perlu diketuk agar sadar bahwa sesungguhnya ada yang sedang mendamba cintanya.
Pada kondisi tertentu sejumlah pria sibuk dengan agenda karier, jihad, dakwah, pendidikan, dan lainnya. Ambilah contoh pria yang larut menuntut ilmu hingga sampai ke puncak teringgi dunia akademis. Sayang seribu kali sayang, dia lupa mengurus masa depan cinta. Pria yang begini neh akrab dengan sebutan PKI (Perjaka Korban Ilmu) ~hehe.. jangan padhe marah yaa ikhwani~
Perbedaan status, juga merupakan salah satu faktor yang membuat laki-laki segan pada gadis yang lebih terhormat. Rasululloh Muhammad SAW adalah pegawai yang memasarkan dagangan Khadijah. Ada perbedaan status yang jelas, sehingga wajar kiranya sinyal itu selayaknya datang dari Khadijah.
Faktor-faktor budaya juga amat mempengaruhi. Santri miskin dari kalangan rakyat jelata akan berat mengutarakan niat suci terlebih dahulu pada putri kyai yang amat disegani.
Pria dilahirkan untuk menaklukkan dunia, sedang wanita tercipta untuk menaklukkan hati laki-laki. Dengan rumus ini bisa dimaklumi bila sebagian pria terlupa agenda nikah demi perjuangan idealismenya. Bagi mereka, kebanggaan tertinggi saat melakukan hal yang hebat bagi dunia. Sementara wanita bisa memenangkan laki-laki idamannya merupakan anugrah terindahnya.
Wanita yang menyatakan cinta pada pria sholeh untuk menikah di jalan Alloh, bukanlah perbuatan yang tercela. Ini lebih baik daripada harapan itu disimpan. Yang hanya membikin sakit karena harapan yang tidak jelas.
Menyampaikannya hanya butuh waktu semenit dua menit. Tapi untuk mengungkapkan rahasia hati luar biasa beratnya, sangat dibutuhkan kekuatan lahir batin. Asalkan sudah selesai disampaikan, maka berton-ton beban di hati hilang melayang. Selanjutnya tinggal menguatkan mental untuk menerima segala hasil dari buah usaha Qta.
Apapun hasilnya, perempuan itu akan memperoleh kepastian hitam atau putih. Hidupnya tidak lagi dirajam gelisah tanpa arah. Jika di terima Alhamdulillah, maka bersemilah bunga cinta di pernikahan yang halal. Bila belum mendapat sambutan terbuka, maka jangan patah hati. Ucapkanlah Allohu Akbar!!! penolakan menambah kedewasaan jiwa menerima kenyataan hidup.
Dan insya Alloh akan datang jodoh yang lebih baik. Sebenarnya tak ada aib yang patut dikhawatirkan.
Dan insya Alloh akan datang jodoh yang lebih baik. Sebenarnya tak ada aib yang patut dikhawatirkan.
Syaratnya, proposal menikah disampaikan pada laki-laki sholeh. Jika dia pria baik, maka akan menerima dengan baik atau menolak dengan baik pula. Sehingga, harkat dan martabat perempuan tetap terpelihara.
Pilihannya lumayan unik:
- Pertama, menyampaikan isi hati sekaligus menguatkan mental untuk siap menghadapi resiko singkat.
- Kedua, memendam dan menderita batin berkepanjangan hingga menjadi sesal tiada akhir.
Maka, keberanian menjadi sangat penting demi mendapatkan posisi kepastian. Khadijah adalah salah satu dari sedikit perempuan yang punya nyali meminang pria. Keberanian itu muncul dan kuat setelah berakar pada keyakinan.
Sebenarnya masih banyak proposal cinta yang datang dari pihak perempuan. Termasuk didalamnya menawarkan puteri atau saudara perempuan pada pria yang sholeh. Sikap proaktif tersebut merupakan langkah terpuji dan bertanggung jawab terhadap keturunan.
Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya mengumpulkan pada satu bab khusus hadits mengenai orangtua yang menawarkan puterinya agar dinikahi laki-laki sholeh. Seorang wali diperbolehkan bahkan disunahkan melakukan hal demikian. Bahkan ada satu bab yang mencantumkan wanita-wanita yang minta dinikahi oleh laki-laki sholeh.
Kalau orangnya berkualitas, mengapa tidak proaktif mengutarakan kejujuran hati. Jika berat menyatakan secara langsung, bisa lewat perantara seperti orang yang lebih tua, saudara, sahabat dan lain-lain. Bisa pula minta bantuan ayah-bunda, teman setia, atau orang terpercaya lainnya. Bisa juga melalui perantara : sepucuk surat, telepon langsung ke dia, atau dgn cara lain.
Jika bernyali, silakan menyampaikan sendiri.
Berani mencoba?
Penulis : Akhina Ifa
Sabtu, 27 Maret 2010
Algoritma diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ?...
iihhh... Apaan sih Algoritma..?
yaa, untuk sebagian anak informatika, algoritma bukanlah alien ditelinga mereka. Menurut mang Google, Algoritma adalah langkah-langkah atau prosedur untuk memecahkan suatu masalah. Jadi, algoritma bisa digunakan untuk memecahkan masalah apapun. Ingat Apapun..!
Resep kue adalah contoh sehari-hari suatu algoritma, yang berisi langkah-langkah membuat kue hingga kue tersebut siap dihidangkan.
Apapun masalahnya, minumnya teh botol Sosro... hueeee... ko ga nyambung...
Apapun masalahnya, bisa diselesaikan dengan algoritma.. hehehehe...
Nah, pertama kita perlu tahu dulu, Apa aja sih kriteria algoritma?
Baru deh, kalo udah tau kriteria algoritma kita bisa membandingkan satu-satu dengan kehidupan.
Kriteria algoritma itu sebagai berikut :
Aaaahhhh masa sih....????
Belum tentu ah, karena segala urusan ada ditangan Alloh Yang Maha Kuasa, selain usaha yang memenuhi kriteria diatas, kita juga perlu bersabar, berpasrah, dan berdoa kepada Alloh.
Hayoh... Semangat...!!!!!
Berusaha dan jangan lupa berdoa... ^_^
yaa, untuk sebagian anak informatika, algoritma bukanlah alien ditelinga mereka. Menurut mang Google, Algoritma adalah langkah-langkah atau prosedur untuk memecahkan suatu masalah. Jadi, algoritma bisa digunakan untuk memecahkan masalah apapun. Ingat Apapun..!
Resep kue adalah contoh sehari-hari suatu algoritma, yang berisi langkah-langkah membuat kue hingga kue tersebut siap dihidangkan.
Apapun masalahnya, minumnya teh botol Sosro... hueeee... ko ga nyambung...
Apapun masalahnya, bisa diselesaikan dengan algoritma.. hehehehe...
Nah, pertama kita perlu tahu dulu, Apa aja sih kriteria algoritma?
Baru deh, kalo udah tau kriteria algoritma kita bisa membandingkan satu-satu dengan kehidupan.
Kriteria algoritma itu sebagai berikut :
- Input : Suatu algoritma harus memiliki input, walaupun itu suatu nilai kosong atau 'nol'. Nah, dalam hidup kita, juga perlu input / masukan. Input di Kepala, Input di Hati, dan tentunya Input di Dompet. hehehehehe..... ^_^
- Output : Suatu algoritma, minimal harus memiliki 1 (satu) output. Nah, kita juga harus punya output. Tunjukin kemampuan kamu, semua yang kita bisa, "Talkless do more" kalo kata mbah, tapi awas jangan sombong.
- Definiteness (Pasti) : Suatu algoritma, harus memiliki instruksi yang jelas agar tidak disalah artikan. Hidup juga harus punya tujuan yang jelas. Harus punya cita-cita. Gapailah cita-cita setinggi langit...
- Finiteness (Terbatas) : Suatu algoritma, harus ada batas berhenti atau end. Hidup juga ada batasnya, jangan selalu ngikutin hawa nafsu.
- Effectiveness (Efektif) : Instruksi dalam badan algoritma harus efektif. Hidup juga harus efektif, jangan membuang waktu sia-sia, waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya..
Aaaahhhh masa sih....????
Belum tentu ah, karena segala urusan ada ditangan Alloh Yang Maha Kuasa, selain usaha yang memenuhi kriteria diatas, kita juga perlu bersabar, berpasrah, dan berdoa kepada Alloh.
Hayoh... Semangat...!!!!!
Berusaha dan jangan lupa berdoa... ^_^
Jumat, 26 Maret 2010
Langit Malam Ini...
Subhanalloh...
Langit malam ini begitu cerah...
Berpendar bagaikan selimut biru bertabur permata...
Subhanalloh...
Langit malam ini begitu indah...
Seindah hati yang telah Engkau anugerahkan...
Subhanalloh...
Jiwa senantiasa selalu merindu-Mu...
Hati terasa hampa tanpa-Mu...
Subhanalloh...
Terima kasih Yaa Alloh..
Telah menganugerahkan aku segala yang telah aku nikmati...
Senang, Bahagia, Sedih, Lelah, Benci, Rindu....
Terima Kasih Yaa Alloh...
untuk semua rasa yang telah Kau anugerahkan padaku...
Syukurku tak kan pernah surut...
Biarkan aku merindu-Mu dan mencintai-Mu...
dan selalu bersyukur pada-Mu...
Subhanalloh...
Langit malam ini begitu cerah...
Berpendar bagaikan selimut biru bertabur permata...
Subhanalloh...
Langit malam ini begitu indah...
Seindah hati yang telah Engkau anugerahkan...
Subhanalloh...
Jiwa senantiasa selalu merindu-Mu...
Hati terasa hampa tanpa-Mu...
Subhanalloh...
Terima kasih Yaa Alloh..
Telah menganugerahkan aku segala yang telah aku nikmati...
Senang, Bahagia, Sedih, Lelah, Benci, Rindu....
Terima Kasih Yaa Alloh...
untuk semua rasa yang telah Kau anugerahkan padaku...
Syukurku tak kan pernah surut...
Biarkan aku merindu-Mu dan mencintai-Mu...
dan selalu bersyukur pada-Mu...
Subhanalloh...
Kamis, 25 Maret 2010
Karena-NYA Aku Merindukan-MU
Mungkin karena hatiku menjauh...
Engkau memberi rasa rindu..
rindu tuk dekat dengan-MU..
kembali lebih mempercayakan hatiku pada-MU..
Ah, betapa kurindukan bisa bercerita tentang apa saja...
Memohon untuk banyak hal yang kemudian
satu persatu Engkau kabulkan dengan cara yang paling baik...
ya Alloh..
aku terlalu sombong..
terlalu percaya diri..
terlalu memanjakan inginku...
Kini teguran-MU membangunkanku...
membuatku tersadar...
Engkaulah Sang Pemilik, dan aku hanya sang peminjam..
Engkaulah Sang Sutradara, dan aku hanyalah sang pelakon..
Ya Alloh...
Terima kasih untuk rasa rindu ini...
Rindu yang membawaku hadir kembali dihadapan-Mu..
Alhamdulillah...
Sabtu, 20 Maret 2010
hahay...
.......
speechless...
hahahahahaha...
cuma bisa senyum...
karena sakit yang kurasakan...
dan tertawa...
yuk mari...
tapi bukan berarti aku gila...
aku ga seperti itu...
tenang saja...
^^
aduh, luka bekas operasinya sakit... kalo kecapean kayak gini neh.. suka kram jadi sakit lagi.. hiks...
speechless...
hahahahahaha...
cuma bisa senyum...
karena sakit yang kurasakan...
dan tertawa...
yuk mari...
tapi bukan berarti aku gila...
aku ga seperti itu...
tenang saja...
^^
aduh, luka bekas operasinya sakit... kalo kecapean kayak gini neh.. suka kram jadi sakit lagi.. hiks...
Rabu, 10 Februari 2010
Calon Buat Ajeng
Calon Suami???!
Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.
Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.
”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”
”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.
Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.
”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.
”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak.
Huhh, dasar kembar!
***
”Ajeng…!”
Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.
”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.
Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi….
Benar saja.
“Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”
”Boy, Tante!”
”Eh, iya. Boi!”
Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!
Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.
Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.
”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”
Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!
***
Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?
”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir.
”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.
Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!
”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!”
Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.
”Apa perlu Bambang yang nyariin???!”
Lemparan bantalku kembali melayang.
***
Kriiiiing…!!!
Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.
Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.
Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!
”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.
”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.
”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.
Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri….
Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.
***
Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.
”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.
Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.
”Junaedi. Panggil aja Juned!”
Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.
Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!
Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.
”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”
Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.
Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.
”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.”
Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.
”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.”
Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!
Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.
***
Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.
”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….
”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”
Duhh, Mami!
Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.
Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.
Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.
”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.
”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar.
Gantian aku yang bingung.
”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.
”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?”
Aku tambah melongo.
”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.
”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!”
Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.
”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar.
Tampak Saleh manggut-manggut.
”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….
”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?”
Tawa Rani meledak.
Duhhh, Mami!!!
***
Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.
”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.
Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.
”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.
”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.
”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.
***
Kesibukanku menulis diary terhenti.
”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.
”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.
Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.
Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.
Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:
Kepada Calon Suamiku….
Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.
Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.
Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.
Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.
Calon suamiku….
Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.
Calon suamiku….
Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!
Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.
Wassalam,
Adinda
NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?
”Syahril… Nama saya Syahril.”
Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.
”Ajeng…!”
Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.
”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar.
Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.
”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?”
Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.
”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.”
Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.
“Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”
Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.
”Apa, Jeng…khitbah? Ngelamar, ya…??”
Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.
Aku masih terpana.
Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu???
Penulis : Asma Nadia
Penulis : Asma Nadia
Langganan:
Postingan (Atom)
