“Tiada kehinaan bagi yang memulai kebaikan. Laki-laki maupun perempuan punya hak yang sama dalam hal melamar.”
Selama ini dipopulerkan teori bahwa laki-lakilah yang berada dalam posisi aktif dalam hal melamar, sementara perempuan dalam posisi pasif atau menunggu lamaran. Tapi kenyataannya tidak bisa dipukul rata, karena banyak juga laki-laki yang pemalu berat. Hatinya perlu diketuk agar sadar bahwa sesungguhnya ada yang sedang mendamba cintanya.
Pada kondisi tertentu sejumlah pria sibuk dengan agenda karier, jihad, dakwah, pendidikan, dan lainnya. Ambilah contoh pria yang larut menuntut ilmu hingga sampai ke puncak teringgi dunia akademis. Sayang seribu kali sayang, dia lupa mengurus masa depan cinta. Pria yang begini neh akrab dengan sebutan PKI (Perjaka Korban Ilmu) ~hehe.. jangan padhe marah yaa ikhwani~
Perbedaan status, juga merupakan salah satu faktor yang membuat laki-laki segan pada gadis yang lebih terhormat. Rasululloh Muhammad SAW adalah pegawai yang memasarkan dagangan Khadijah. Ada perbedaan status yang jelas, sehingga wajar kiranya sinyal itu selayaknya datang dari Khadijah.
Faktor-faktor budaya juga amat mempengaruhi. Santri miskin dari kalangan rakyat jelata akan berat mengutarakan niat suci terlebih dahulu pada putri kyai yang amat disegani.
Pria dilahirkan untuk menaklukkan dunia, sedang wanita tercipta untuk menaklukkan hati laki-laki. Dengan rumus ini bisa dimaklumi bila sebagian pria terlupa agenda nikah demi perjuangan idealismenya. Bagi mereka, kebanggaan tertinggi saat melakukan hal yang hebat bagi dunia. Sementara wanita bisa memenangkan laki-laki idamannya merupakan anugrah terindahnya.
Wanita yang menyatakan cinta pada pria sholeh untuk menikah di jalan Alloh, bukanlah perbuatan yang tercela. Ini lebih baik daripada harapan itu disimpan. Yang hanya membikin sakit karena harapan yang tidak jelas.
Menyampaikannya hanya butuh waktu semenit dua menit. Tapi untuk mengungkapkan rahasia hati luar biasa beratnya, sangat dibutuhkan kekuatan lahir batin. Asalkan sudah selesai disampaikan, maka berton-ton beban di hati hilang melayang. Selanjutnya tinggal menguatkan mental untuk menerima segala hasil dari buah usaha Qta.
Apapun hasilnya, perempuan itu akan memperoleh kepastian hitam atau putih. Hidupnya tidak lagi dirajam gelisah tanpa arah. Jika di terima Alhamdulillah, maka bersemilah bunga cinta di pernikahan yang halal. Bila belum mendapat sambutan terbuka, maka jangan patah hati. Ucapkanlah Allohu Akbar!!! penolakan menambah kedewasaan jiwa menerima kenyataan hidup.
Dan insya Alloh akan datang jodoh yang lebih baik. Sebenarnya tak ada aib yang patut dikhawatirkan.
Dan insya Alloh akan datang jodoh yang lebih baik. Sebenarnya tak ada aib yang patut dikhawatirkan.
Syaratnya, proposal menikah disampaikan pada laki-laki sholeh. Jika dia pria baik, maka akan menerima dengan baik atau menolak dengan baik pula. Sehingga, harkat dan martabat perempuan tetap terpelihara.
Pilihannya lumayan unik:
- Pertama, menyampaikan isi hati sekaligus menguatkan mental untuk siap menghadapi resiko singkat.
- Kedua, memendam dan menderita batin berkepanjangan hingga menjadi sesal tiada akhir.
Maka, keberanian menjadi sangat penting demi mendapatkan posisi kepastian. Khadijah adalah salah satu dari sedikit perempuan yang punya nyali meminang pria. Keberanian itu muncul dan kuat setelah berakar pada keyakinan.
Sebenarnya masih banyak proposal cinta yang datang dari pihak perempuan. Termasuk didalamnya menawarkan puteri atau saudara perempuan pada pria yang sholeh. Sikap proaktif tersebut merupakan langkah terpuji dan bertanggung jawab terhadap keturunan.
Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya mengumpulkan pada satu bab khusus hadits mengenai orangtua yang menawarkan puterinya agar dinikahi laki-laki sholeh. Seorang wali diperbolehkan bahkan disunahkan melakukan hal demikian. Bahkan ada satu bab yang mencantumkan wanita-wanita yang minta dinikahi oleh laki-laki sholeh.
Kalau orangnya berkualitas, mengapa tidak proaktif mengutarakan kejujuran hati. Jika berat menyatakan secara langsung, bisa lewat perantara seperti orang yang lebih tua, saudara, sahabat dan lain-lain. Bisa pula minta bantuan ayah-bunda, teman setia, atau orang terpercaya lainnya. Bisa juga melalui perantara : sepucuk surat, telepon langsung ke dia, atau dgn cara lain.
Jika bernyali, silakan menyampaikan sendiri.
Berani mencoba?
Penulis : Akhina Ifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar